Selama ini jika kita
berbicara tentang pejuang maka kiblatnya lebih sering ke mereka yang maju di
medan perang melakukan perlawanan terhadap musuh memanggul senjata dan
bergerilya; dengan kata lain adalah orang-orang militer. Sedang mereka yang
bergerak di bidang non militer atau sipil jarang disebut padahal mereka juga
turut memberi andil lewat diplomasi, karya seni ataupun tulisan. Salah satu
contoh pejuang yang namanya timbul tenggelam adalah Soegija yang memiliki nama
lengkap Mgr Albertus Soegijapranata, SJ. Di kalangan umat Katolik namanya
mungkin sudah tak asing dan masih sering terdengar tapi bagaimana dengan
perannya di masa perjuangan kemerdekaan? Apakah ada yang mengulasnya?
***** Minggu, 19 Desember 1948 Belanda
melancarkan serangan udara ke atas ibukota RI Yogyakarta. Sebagai centre of
gravity, Yogyakarta harus dilumpuhkan dalam sekali gebrakan demikian komando
Jenderal Simon Spoor, Panglima KNIL dalam memimpin operasi militer yang dikenal
dengan Operatie Kraai untuk melumpuhkan kekuatan republik. Sebuah tindakan
pelanggaran yang dilakukan Belanda terhadap kesepakatan Perjanjian Renville
yang ditandatangani pada 17 Januari 1948 di atas kapal USS Renville. Julius
Pour dalam bukunya Doorstoot Naar Djokja, mengutip catatan harian Mgr Albertus
Soegijapranata, SJ yang menuliskan dengan detail situasi Yogya kala itu,
"...sekitar pk 10 pagi Belanda mulai mendatangkan pesawat pembom. Sesudah
beberapa kali berputar di atas kota, mereka kemudian menjatuhkan bom, terus
menerus dijatuhkan, susul menyusul meledak, tanpa reda. Dimana-mana terdengar
deru mesin pesawat terbang, bunyi tembakan senapan, rentetan ledakan senapan
mesin berikut dentuman meriam. Sejumlah pengungsi mulai menyelamatkan diri,
dengan berduyun-duyun masuk ke dalam Pasturan Bintaran ..." Siapa Romo
Soegijapranata yang mendapat gelar Pahlawan Nasional bedasarkan Surat Keputusan
Presiden RI No 152 Tahun 1963 tertanggal 26 Juli 1963, hingga kisah
kepemimpinan dan perjuangannya layak diangkat ke layar lebar dan menjadi tokoh
utama dalam film epik Soegija garapan sineas sekaliber Garin Nugroho? Mgr
Albertus Soegijapranata, SJ atau akrab disapa Romo Kanjeng (bahasa Jawa, Rama
Kandjeng) lahir di Surakarta pada 25 November 1896 sebagai anak kelima dari
sembilan bersaudara anak Bapak Ibu Karijosoedarmo abdi dalem Keraton Surakarta
dengan nama kecil Soegija. Ayahnya asli Yogya sedang ibunya dari Surakarta
penganut kebathinan, sementara kakeknya dari garis ayah adalah seorang kyai
yang terkenal dari Yogya bernama Kyai Soepa. Tumbuh seperti remaja sebayanya yang
tak lepas dari kenakalan-kenakalan remaja; Soegija pun sering terlibat
perkelahian terutama karena tidak menerima pelecehan dari anak-anak Indo atau
Belanda yang memandang rendah anak pribumi. Selepas Sekolah Rakyat (SR) Soegija
melanjutkan pendidikan di sekolah Katolik Kolose Xaverius Muntilan setelah
berhasil meyakinkan orang tuanya dengan memberikan alasan kuat : mutu
pendidikan di Muntilan terjamin karena dititikberatkan untuk belajar, bekal
pendidikan di Xaverius menopang cita-citanya menjadi guru dan para romo
mengajar siswa untuk pandai bukan pemaksaan agama (dalam hal ini Katolik). Hal
ini didasari pada pertemuannya dengan Romo van Lith pendiri sekolah asrama
Muntilan di SR Wirogunan. Di asrama Soegija sering berdiskusi dengan beberapa
romo yang membuatnya merenung saat mengetahui para romo cukup senang mendapat
kesempatan mengabdikan diri bagi sesama dengan mengajar dan mempersiapkan
tunas-tunas masa depan meski tidak digaji. Satu tugas mulia sekaligus cerminan
pengabdian kepada Tuhan yang mengusik pikirannya. Kekeluargaan dan keakraban
yang terjalin antara guru dan murid serta pelatihan siswa menjadi manusia yang
bertanggung jawab di kehidupan asrama pun ikut berpengaruh dalam pembentukan
karakter dan cara pandangnya. Lambat laun Soegija yang mulai merasakan adanya
perubahan dalam dirinya terutama cara hidup dan doanya, meminta ijin kepada
romo untuk mengikuti pelajaran Katolik di sekolah meski sempat tidak diijinkan
oleh romo. Pada 24 Desember 1910 Soegija memantapkan hati mendapat sakramen
baptisan dengan nama baptis Albertus. Soegija sangat bersyukur karena kedua
orang tuanya bisa menerima pilihannya asalkan dia bisa hidup selaras dengan
keyakinan baru yang dipilihnya meski bertentangan dengan keinginan mereka.
Soegija yang menguasai bahasa Belanda, Inggris, Yunani dan Latin menerima
sakramen Imamat dan ditahbiskan sebagai Imam pada 15 Agustus 1931 di
Maastricht, Belanda dan menambahkan sebuah kata pada namanya menjadi Albertus
Soegijapranata SJ. Pada 6 November 1940, Soegija yang kala itu Pastor di Paroki
Bintaran menerima pentahbisan menjadi Vikaris Apostolik dengan gelar Uskup
Danaba di Gereja Randusari, Semarang berdasarkan mandat dari Kardinal Montini
dari Vatikan. Tidak mudah baginya untuk menerima salib mengemban tugas sebagai
pribumi pertama yang menjadi Uskup Agung di masa perang awal kemerdekaan;
sebagai seorang pemimpin umat sekaligus pejuang kemanusiaan. Kebingungan karena
terpilih sebagai Uskup sempat disampaikannya lewat pertanyaan sederhana yang
membuat koster Toegimin bingung saat mengantarkan soto untuk sarapan pagi sang
Pastor,"pernah melihat seorang Uskup makan soto?" Jabatan dalam
bidang keagamaan bukanlah penghalang bagi Soegija untuk ikut terlibat dalam
perjuangan melawan penjajah. Tahun 1942 Jepang mulai masuk ke Indonesia, mereka
menyita semua yang berbau Belanda. Para imam, suster dan pekerja di kalangan
gereja pun tak luput ditangkap, dijadikan sandera bahkan dibunuh. Ketika Gereja
Randusari hendak disita oleh Jepang untuk dijadikan markas, Soegija dengan
tegas menolak,"ini adalah tempat yang suci. Saya tidak akan memberi ijin.
Penggal dulu kepala saya maka tuan baru boleh memakainya." Saat meletus
perang lima hari melawan Jepang untuk mempertahankan kemerdekaan di Semarang
(15-20 Oktober 1945), Soegija bertahan tidak meninggalkan kota meski cap
penghianat dialamatkan kepada mereka yang tidak mau mengungsi. Soegija menjadi
salah satu mediator pada pertemuan antara pemuda pejuang Indonesia dengan
tentara Sekutu dan Jepang di serambi pastori Gedangan dan yang mendesak
dilakukannya gencatan senjata. Ketika ibukota RI dipindahkan dari Jakarta ke
Yogyakarta pada 4 Januari 1946, Soegija pun ikut memindahkan pusat pelayanannya
dari Semarang ke Yogyakarta sebagai wujud solidaritas. Kepindahan tersebut
memudahkan Soegija untuk berkomunikasi dengan para pemimpin negara termasuk
dengan Presiden Soekarno. Kedekatan dengan petinggi pemerintahan maupun militer
dan keterlibatan Soegija dalam perang kemerdekaan tertuang dalam catatan harian
yang ditulis beliau dan dibukukan oleh G. Budi Subanar, SJ : Kesaksian
Revolusioner Seorang Uskup di Masa Perang. Mgr Soegijapranata berbicara di
depan umat (dok. koleksi pribadi dari buku Kesaksian Revolusioner Seorang Uskup
di Masa Perang) Lewat Soegija, kita bisa melihat bahwa seorang pejuang tidak
semata memanggul senapan. Diplomasi politik lewat pidato untuk mendesak
gencatan senjata maupun tulisan-tulisannya di media luar negeri tentang kondisi
sebenarnya yang terjadi di Indonesia berupa kecurangan dan kebengisan Belanda
terhadap rakyat Indonesia masa itu membuat mata dunia terbuka. Soegija
meninggal 22 Juli 1963 di Nederland, Belanda dan dimakamkan di TMP Giritunggal,
Semarang, Jawa Tengah namun semangat kepahlawanan, nasionalisme, keteladanannya
tetap hidup dan menjadi inspirasi bagi generasi setelahnya. Atas jasanya,
Soegija mendapatkan gelar kehormatan dari pemerintah pada 18 Januari 1950
seperti yang terpatri di atas nisannya sebagai Vikaris Angkatan Perang
Indonesia. Mari kita tengok kembali politik dan pemerintahan yang saat ini
berlangsung di negeri tercinta ini dari hulu hingga ke hilir. Setiap orang
berlomba untuk menjadi terdepan dengan mencari keuntungan diri sendiri tanpa
mau peduli pada keadaan sekitarnya. Betul apa benar? Film Soegija hadir dari
sebuah perjuangan untuk mengenalkan seorang pejuang kemanusiaan, perjuangan
dari mereka yang berada dibalik layar. Segala daya upaya untuk menggalang dana
dari simpatisan Soegijapranata serta donasi umat Katolik Indonesia demi
menutupi biaya pembuatan dan promosi film dilakukan. Film yang menghabiskan dana
sekitar Rp 15 milyar ini, berisi sentilan terhadap para pemimpin serta pesan
perdamaian dan kemanusiaan kepada kita masyarakat Indonesia (dan dunia) tentang
arti sebuah perjuangan. Akhirnya film yang awalnya hanya akan dibuat dalam
bentuk VCD/DVD untuk kalangan sendiri dan penayangannya mundur dari rencana
tayang sebelumnya di Desember 2011, segera hadir di bioskop-bioskop tanah air
pada 7 Juni 2012. Film berdurasi 1,5 jam ini, BUKAN-lah film agama tertentu
melainkan sebuah oase perenungan yang memberi pesan bagaimana sosok seorang
pemimpin yang memiliki karakter kuat dalam mengayomi umat dengan motto 100%
katolik 100% Indonesia. Sosok pimpinan yang didambakan rakyat, ikut ambil
bagian berjuang untuk negaranya, hidup selaras dalam keberagaman budaya, menjunjung
kemanusiaan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di tengah memudarnya tokoh
panutan Indonesia. Para Pemain film Soegija: Nirwan Dewanto sebagai Mgr
Soegijapranata Butet Kertaredjasa sebagai Koster Toegimin Annisa Hertami
Kusumastuti sebagai Mariyem Olga Lydia sebagai Mei Ling Bahan Bacaan dan
Resensi: Soegija si Anak Bethlehem van Java, Biografi Mgr Albertus
Soegijapranata, SJ, 2003 - G. Budi Subanar, SJ Kesaksian Revolusioner Seorang
Uskup di Masa Perang, Catatan Harian Mgr A. Soegijapranata, SJ (13 Februari
1947 - 17 Agustus 1949), 2003 - G. Budi Subanar, SJ Doorstoot Naar Djokja,
Pertikaian Pemimpin Sipil-Militer, 2010 - Julius Pour Teaser trailer Soegija,
2011 - Garin Nugroho, Studio Audio Visual-PUSKAT Yogyakarta (bisa dilihat di
sini) Melihat geliat perfilman Indonesia dengan bermunculannya kembali
film-film berkualitas, kita tentu berharap film Indonesia kembali menduduki
posisi terbaik dan memikat hati penikmat film di negerinya sendiri. Salam kasih
penuh cinta damai
http://www.kompasiana.com/oli3ve/soegija-mengenang-perjuangan-romo-kanjeng-di-tengah-krisis-kepemimpinan-di-indonesia_55100c4f8133118b38bc617a
Artikel ini sangat bagus dan menginspirasi kita kaum muda dan siapa saja untuk mengikuti jejak beliau tidak harus sama persis tetapi dalam kehidupan beragama dan bermasyarakat sangat patut dicontoh.
semoga teladan beliau dpt kita contoh di kehidupan kita
BalasHapusnice article ;)
BalasHapusGood article! Semoga mengisnpirasi semua kaum muda ! Terus berkarya
BalasHapusNice artikel. Terus berkarya. Godbless
BalasHapusGood article flo,terus berkarya dan tuangkan inspirasi di blogmu. GBU
BalasHapusBeliau memang patut dijadikan teladan. Nice article keep writing
BalasHapusSemoga menjadi pelajaran buat kita untuk selalu bisa menjadi teladan dimasyarakat
BalasHapusartikel yang baguss...
BalasHapusartikel yang sagat bagus
BalasHapusNice artikel.
BalasHapusInilah yang menjadi pedoman dan teladan kita dalam pendidikan di jenjang univ, terus berkarya, Gbu
BalasHapus