PAUD PERMATA
HATI
Di proyek agama kami selanjutnya kami di
perintahkan untuk berbuat kebaikan tapi tanpa dana sama sekali, saya dan teman
sekelompok saya bingung “mau berbuat apakah kita?? ‘’ kata teman saya..kemudian
teman saya yang lain mengusulkan bagaimana kalo kita mengajar PAUD saja dan
kemudian kami semua setuju untuk mengajar PAUD. Kami disana mengajarkan tentang
banyak hal kepada anak-anak tersebut misalnya saja bernyanyi, bermain, maju
kedepan untuk menjawab pertanyaan dll, yang inti dari tujuan itu adalah untuk
melatih kekompakan mereka, melatih mental mereka untuk berani berpendapat dan
juga peduli satu sama lain.
Imanku Mendamikan Dunia
Sabtu, 12 Desember 2015
Minggu, 29 November 2015
IMAN YANG MEMERDEKAKAN
Rm 1: 16-17
Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya. Keselamatan atau salvation atau dalam bahasa Yunaninya adalah soteria yang artinya adalah utuh sempurna, kemakmuran, perlindungan. Kalau dalam bahasa Ibraninya adalah Yesua. Jadi Yesus adalah keselamatan itu sendiri. Kalau mau selamat ya datang ama Yesus.
Sebab di dalam Injil nyata kebenaran Allah, kebenaran yg diberikan oleh Allah karena percaya kita kepada Tuhan Yesus. Kebenaran disini adalah gift, pemberian, hadiah, cuma-cuma bukan karena perjuangan atau perbuatan kita. Pemberiannya tidak tergantung kepada si penerima dan setiap orang dalam keadaan apapun dapat menerima berkat yang luar biasa dari Tuhan karena yang menentukan adalah Tuhan Yesus sendiri, bukan kita.
Di dalam Roma 10:1-3,dimana Paulus prihatin dan berdoa untuk orang=orang Yahudi, karena mereka sangat giat beribadah untuk Tuhan tetapi sayang mereka tidak punya pengertian yg benar. Karen mereka tidak mengenal kebenaran Allah dan oleh karena mereka berusaha untuk mendirikan kebenaran mereka sendiri.
Di dalam Roma 6:14: “ Sebab kamu tidak akan dikuasai lagi oleh dosa, karena kamu tidak lagi di bawah hukum Taurat, tetapi di bawah kasih karunia.” Kalau dulu sebelum Yesus datang hidup kita di bawah hukum taurat, kita harus melakukan semuanya baru kita akan dibenarkan atau Allah tidak akan menghukum kita, tetapi jika salah satu dari hukum itu tidak kita laksanakan maka kita akan gagal. Tetapi Yesus datang untuk menggenapi hukun taurat itu bukan untuk meniadakannya. Kalau kita percaya sama Yesus maka kita adalah orang-orang benar.
Roma 5:19 :” Jadi sama seperti oleh ketidaktaatan satu orang semua orang telah menjadi orang berdosa, demikian juga oleh ketaatan satu orang semua orang menjadi orang benar.”
Sekarang yang menjadi pertanyaan adalah kenapa yang satu terima yang satu lagi tidak menerima berkat itu ?? Pertempuran terjad di pikiran karena di pikiran ada benteng yang menghambat kita untuk mengerti akan Allah... Munculah keraguan ...Contoh : ketika kita berdoa minta kesembuhan dari sakit kita, di dalam pikiran kita muncul keraguan, Ah apakah benar saya bisa sembuh ? Hilangkan keraguan itu, percaya saja Tuhan sanggup melakukan jauh lebih dahsyat dari apa yang kita pikirkan.
2kor 10:4-5 senjata kita utk melawan benteng , merubuhkan kebenaran manusia dan keangkuhannya dan melawan segala pikiran dan menaklukkannya kpd Kristus.
Yesus mendengar doa saya bukan krn ketaatan saya tapi karena ketaatan Yesus yang membuat doa saya didengar oleh Tuhan karena kita sudah dibenarkan... Stop membiarkan pikiran dikuasai oleh benteng2 keraguan, lalu taklukkan dg iman, perkatakan Firman.
Rm 6:18:” Kamu telah telah dimerdekakan dari dosa dan mjd hamba kebenaran.”
Kita bukan dibebaskan dr perbuatan dosa, dosa disini bukan kata kerja tapi kata benda. Status tidak akan dapat diubah meski apapun yang kita lakukan karena dosa sudah menawan kita, Allah sengaja mendesain hal ini supaya iblis tidak bisa protes seperti yang tertulis di Rm 5:19.
Kita tidak dihakimi lagi oleh perbuatan tetapi oleh karen iman kita... Semakin mengenal akan Firman, kita akan semakin tidak mau berbuat dosa... Tetapi hidup dalam kekudusan.
Zakaria 9:11-12 , kembalilah kepada Yesus , kita akan jadi tahanan yang penuh harapan....
Selama ada di dlm Yesus kita akan tetap selamat.... Jangan datang ke gereja untuk selamat atau masuk surga tapi kudunya ya mengucap syukur sama yang memberikan kita keselamatan.
Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya. Keselamatan atau salvation atau dalam bahasa Yunaninya adalah soteria yang artinya adalah utuh sempurna, kemakmuran, perlindungan. Kalau dalam bahasa Ibraninya adalah Yesua. Jadi Yesus adalah keselamatan itu sendiri. Kalau mau selamat ya datang ama Yesus.
Sebab di dalam Injil nyata kebenaran Allah, kebenaran yg diberikan oleh Allah karena percaya kita kepada Tuhan Yesus. Kebenaran disini adalah gift, pemberian, hadiah, cuma-cuma bukan karena perjuangan atau perbuatan kita. Pemberiannya tidak tergantung kepada si penerima dan setiap orang dalam keadaan apapun dapat menerima berkat yang luar biasa dari Tuhan karena yang menentukan adalah Tuhan Yesus sendiri, bukan kita.
Di dalam Roma 10:1-3,dimana Paulus prihatin dan berdoa untuk orang=orang Yahudi, karena mereka sangat giat beribadah untuk Tuhan tetapi sayang mereka tidak punya pengertian yg benar. Karen mereka tidak mengenal kebenaran Allah dan oleh karena mereka berusaha untuk mendirikan kebenaran mereka sendiri.
Di dalam Roma 6:14: “ Sebab kamu tidak akan dikuasai lagi oleh dosa, karena kamu tidak lagi di bawah hukum Taurat, tetapi di bawah kasih karunia.” Kalau dulu sebelum Yesus datang hidup kita di bawah hukum taurat, kita harus melakukan semuanya baru kita akan dibenarkan atau Allah tidak akan menghukum kita, tetapi jika salah satu dari hukum itu tidak kita laksanakan maka kita akan gagal. Tetapi Yesus datang untuk menggenapi hukun taurat itu bukan untuk meniadakannya. Kalau kita percaya sama Yesus maka kita adalah orang-orang benar.
Roma 5:19 :” Jadi sama seperti oleh ketidaktaatan satu orang semua orang telah menjadi orang berdosa, demikian juga oleh ketaatan satu orang semua orang menjadi orang benar.”
Sekarang yang menjadi pertanyaan adalah kenapa yang satu terima yang satu lagi tidak menerima berkat itu ?? Pertempuran terjad di pikiran karena di pikiran ada benteng yang menghambat kita untuk mengerti akan Allah... Munculah keraguan ...Contoh : ketika kita berdoa minta kesembuhan dari sakit kita, di dalam pikiran kita muncul keraguan, Ah apakah benar saya bisa sembuh ? Hilangkan keraguan itu, percaya saja Tuhan sanggup melakukan jauh lebih dahsyat dari apa yang kita pikirkan.
2kor 10:4-5 senjata kita utk melawan benteng , merubuhkan kebenaran manusia dan keangkuhannya dan melawan segala pikiran dan menaklukkannya kpd Kristus.
Yesus mendengar doa saya bukan krn ketaatan saya tapi karena ketaatan Yesus yang membuat doa saya didengar oleh Tuhan karena kita sudah dibenarkan... Stop membiarkan pikiran dikuasai oleh benteng2 keraguan, lalu taklukkan dg iman, perkatakan Firman.
Rm 6:18:” Kamu telah telah dimerdekakan dari dosa dan mjd hamba kebenaran.”
Kita bukan dibebaskan dr perbuatan dosa, dosa disini bukan kata kerja tapi kata benda. Status tidak akan dapat diubah meski apapun yang kita lakukan karena dosa sudah menawan kita, Allah sengaja mendesain hal ini supaya iblis tidak bisa protes seperti yang tertulis di Rm 5:19.
Kita tidak dihakimi lagi oleh perbuatan tetapi oleh karen iman kita... Semakin mengenal akan Firman, kita akan semakin tidak mau berbuat dosa... Tetapi hidup dalam kekudusan.
Zakaria 9:11-12 , kembalilah kepada Yesus , kita akan jadi tahanan yang penuh harapan....
Selama ada di dlm Yesus kita akan tetap selamat.... Jangan datang ke gereja untuk selamat atau masuk surga tapi kudunya ya mengucap syukur sama yang memberikan kita keselamatan.
Sabtu, 28 November 2015
MENGENANG MASA LALU UNTUK PEMBELAJARAN DI MASA MENDATANG
Tanggal 26 Desember 2004 lalu, bagi masyarakat Aceh merupakan hari yang sangat sulit untuk dilupakan. Betapa tidak, pada hari itu 230.000 orang meninggal karena bencana Tsunami. Tiga hari kemudian, para artis kondang ibu kota berkumpul di sebuah stasiun televisi swasta untuk mengadakan sebuah “Konser Kepedulian”. Pada saat itu, sebagian besar artis berkomentar bahwa Tsunami terjadi sebagai hukuman dari Tuhan karena Tuhan murka atas kedurhakaan manusia dengan dosa-dosa yang telah mereka lakukan. Benarkah pendapat tersebut?
Hal ini menjelaskan kepada kita bahwa menjelang kedatangan Tuhan untuk kedua kalinya (parousia) akan terjadi tanda-tanda pendahuluan berupa bencana alam yang dahsyat. Kedahsyatan bencana ini digambarkan dengan banyaknya orang yang mati ketakutan karena kecemasan atas bencana-bencana tersebut. Inilah yang akan terjadi pada orang-orang yang tidak beriman, bukan mati karena menjadi korban bencana tetapi mati karena kecemasan (stress). Di lain pihak, Tuhan menegaskan bahwa sesungguhnya pada saat itu orang beriman akan melihat Anak Manusia datang dalam awan dengan segala kekuasaan dan kemuliaan-Nya. Maka, apabila semuanya itu mulai terjadi, “Bangkitlah dan angkatlah mukamu, sebab penyelamatanmu sudah dekat,” demikian Tuhan Yesus melanjutkan.
Iman Kristiani memandang bencana alam sebagai tanda-tanda yang bersifat positif, bukan sebagai wujud hukuman Allah atas dosa-dosa manusia, melainkan sebagai tanda-tanda semakin dekatnya Hari Penyelamatan, yaitu kedatangan Tuhan yang kedua (parousia). Oleh karena itu, alih-alih melihat bencana alam sebagai tanda kemurkaan Allah atas dosa-dosa manusia, Tuhan Yesus mengajak kita untuk melihat bencana alam lebih sebagai tanda peringatan akan semakin dekatnya Hari Penyelamatan, dan oleh karenanya kita harus sungguh-sungguh mempersiapkan diri.
Hari ini kita mulai memasuki Masa Adven. Masa Adven diselenggarakan oleh Gereja untuk mengingatkan segenap umat beriman agar senantiasa sungguh-sungguh mempersiapkan diri untuk menyambut Hari Penyelamatan, hari kedatangan Tuhan Yesus Kristus untuk kedua kalinya. Oleh karena itu, kalau pada hari ini kita melihat ada bencana alam terjadi di berbagai belahan dunia, Tuhan Yesus mengajak kita untuk memandangnya secara positif. Bencana alam bukanlah tanda kemurkaan Allah atas kedurhakaan manusia yang harus membuat manusia mati ketakutan karena kecemasan, melainkan tanda semakin dekatnya Hari Penyelamatan yang harus kita sikapi dengan upaya semakin mempersiapkan diri untuk menyambut-Nya. Bagaimana caranya? Dengan terus menerus bertobat, dengan menjaga diri supaya hati tidak sarat oleh pesta pora dan kemabukan serta kepentingan-kepentingan duniawi (hidup sembrono) dan senantiasa berdoa.
Dengan demikian kelak kita semua akan tahan berdiri di hadapan Anak Manusia. Artinya, kita memiliki hidup yang pantas untuk menyambut kedatangan Tuhan pada Hari Penyelamatan. Akhirnya, bersukacitalah senantiasa, bangkitlah dan angkatlah mukamu sebab penyelamatanmu sudah dekat. Selamat memasuki Masa Adven 2015.
Hal ini menjelaskan kepada kita bahwa menjelang kedatangan Tuhan untuk kedua kalinya (parousia) akan terjadi tanda-tanda pendahuluan berupa bencana alam yang dahsyat. Kedahsyatan bencana ini digambarkan dengan banyaknya orang yang mati ketakutan karena kecemasan atas bencana-bencana tersebut. Inilah yang akan terjadi pada orang-orang yang tidak beriman, bukan mati karena menjadi korban bencana tetapi mati karena kecemasan (stress). Di lain pihak, Tuhan menegaskan bahwa sesungguhnya pada saat itu orang beriman akan melihat Anak Manusia datang dalam awan dengan segala kekuasaan dan kemuliaan-Nya. Maka, apabila semuanya itu mulai terjadi, “Bangkitlah dan angkatlah mukamu, sebab penyelamatanmu sudah dekat,” demikian Tuhan Yesus melanjutkan.
Iman Kristiani memandang bencana alam sebagai tanda-tanda yang bersifat positif, bukan sebagai wujud hukuman Allah atas dosa-dosa manusia, melainkan sebagai tanda-tanda semakin dekatnya Hari Penyelamatan, yaitu kedatangan Tuhan yang kedua (parousia). Oleh karena itu, alih-alih melihat bencana alam sebagai tanda kemurkaan Allah atas dosa-dosa manusia, Tuhan Yesus mengajak kita untuk melihat bencana alam lebih sebagai tanda peringatan akan semakin dekatnya Hari Penyelamatan, dan oleh karenanya kita harus sungguh-sungguh mempersiapkan diri.
Hari ini kita mulai memasuki Masa Adven. Masa Adven diselenggarakan oleh Gereja untuk mengingatkan segenap umat beriman agar senantiasa sungguh-sungguh mempersiapkan diri untuk menyambut Hari Penyelamatan, hari kedatangan Tuhan Yesus Kristus untuk kedua kalinya. Oleh karena itu, kalau pada hari ini kita melihat ada bencana alam terjadi di berbagai belahan dunia, Tuhan Yesus mengajak kita untuk memandangnya secara positif. Bencana alam bukanlah tanda kemurkaan Allah atas kedurhakaan manusia yang harus membuat manusia mati ketakutan karena kecemasan, melainkan tanda semakin dekatnya Hari Penyelamatan yang harus kita sikapi dengan upaya semakin mempersiapkan diri untuk menyambut-Nya. Bagaimana caranya? Dengan terus menerus bertobat, dengan menjaga diri supaya hati tidak sarat oleh pesta pora dan kemabukan serta kepentingan-kepentingan duniawi (hidup sembrono) dan senantiasa berdoa.
Dengan demikian kelak kita semua akan tahan berdiri di hadapan Anak Manusia. Artinya, kita memiliki hidup yang pantas untuk menyambut kedatangan Tuhan pada Hari Penyelamatan. Akhirnya, bersukacitalah senantiasa, bangkitlah dan angkatlah mukamu sebab penyelamatanmu sudah dekat. Selamat memasuki Masa Adven 2015.
Selasa, 10 November 2015
Mengenang Perjuangan Mgr Albertus Soegijapranata, SJ. di Tengah Krisis Kepemimpinan di Indonesia
Selama ini jika kita
berbicara tentang pejuang maka kiblatnya lebih sering ke mereka yang maju di
medan perang melakukan perlawanan terhadap musuh memanggul senjata dan
bergerilya; dengan kata lain adalah orang-orang militer. Sedang mereka yang
bergerak di bidang non militer atau sipil jarang disebut padahal mereka juga
turut memberi andil lewat diplomasi, karya seni ataupun tulisan. Salah satu
contoh pejuang yang namanya timbul tenggelam adalah Soegija yang memiliki nama
lengkap Mgr Albertus Soegijapranata, SJ. Di kalangan umat Katolik namanya
mungkin sudah tak asing dan masih sering terdengar tapi bagaimana dengan
perannya di masa perjuangan kemerdekaan? Apakah ada yang mengulasnya?
***** Minggu, 19 Desember 1948 Belanda
melancarkan serangan udara ke atas ibukota RI Yogyakarta. Sebagai centre of
gravity, Yogyakarta harus dilumpuhkan dalam sekali gebrakan demikian komando
Jenderal Simon Spoor, Panglima KNIL dalam memimpin operasi militer yang dikenal
dengan Operatie Kraai untuk melumpuhkan kekuatan republik. Sebuah tindakan
pelanggaran yang dilakukan Belanda terhadap kesepakatan Perjanjian Renville
yang ditandatangani pada 17 Januari 1948 di atas kapal USS Renville. Julius
Pour dalam bukunya Doorstoot Naar Djokja, mengutip catatan harian Mgr Albertus
Soegijapranata, SJ yang menuliskan dengan detail situasi Yogya kala itu,
"...sekitar pk 10 pagi Belanda mulai mendatangkan pesawat pembom. Sesudah
beberapa kali berputar di atas kota, mereka kemudian menjatuhkan bom, terus
menerus dijatuhkan, susul menyusul meledak, tanpa reda. Dimana-mana terdengar
deru mesin pesawat terbang, bunyi tembakan senapan, rentetan ledakan senapan
mesin berikut dentuman meriam. Sejumlah pengungsi mulai menyelamatkan diri,
dengan berduyun-duyun masuk ke dalam Pasturan Bintaran ..." Siapa Romo
Soegijapranata yang mendapat gelar Pahlawan Nasional bedasarkan Surat Keputusan
Presiden RI No 152 Tahun 1963 tertanggal 26 Juli 1963, hingga kisah
kepemimpinan dan perjuangannya layak diangkat ke layar lebar dan menjadi tokoh
utama dalam film epik Soegija garapan sineas sekaliber Garin Nugroho? Mgr
Albertus Soegijapranata, SJ atau akrab disapa Romo Kanjeng (bahasa Jawa, Rama
Kandjeng) lahir di Surakarta pada 25 November 1896 sebagai anak kelima dari
sembilan bersaudara anak Bapak Ibu Karijosoedarmo abdi dalem Keraton Surakarta
dengan nama kecil Soegija. Ayahnya asli Yogya sedang ibunya dari Surakarta
penganut kebathinan, sementara kakeknya dari garis ayah adalah seorang kyai
yang terkenal dari Yogya bernama Kyai Soepa. Tumbuh seperti remaja sebayanya yang
tak lepas dari kenakalan-kenakalan remaja; Soegija pun sering terlibat
perkelahian terutama karena tidak menerima pelecehan dari anak-anak Indo atau
Belanda yang memandang rendah anak pribumi. Selepas Sekolah Rakyat (SR) Soegija
melanjutkan pendidikan di sekolah Katolik Kolose Xaverius Muntilan setelah
berhasil meyakinkan orang tuanya dengan memberikan alasan kuat : mutu
pendidikan di Muntilan terjamin karena dititikberatkan untuk belajar, bekal
pendidikan di Xaverius menopang cita-citanya menjadi guru dan para romo
mengajar siswa untuk pandai bukan pemaksaan agama (dalam hal ini Katolik). Hal
ini didasari pada pertemuannya dengan Romo van Lith pendiri sekolah asrama
Muntilan di SR Wirogunan. Di asrama Soegija sering berdiskusi dengan beberapa
romo yang membuatnya merenung saat mengetahui para romo cukup senang mendapat
kesempatan mengabdikan diri bagi sesama dengan mengajar dan mempersiapkan
tunas-tunas masa depan meski tidak digaji. Satu tugas mulia sekaligus cerminan
pengabdian kepada Tuhan yang mengusik pikirannya. Kekeluargaan dan keakraban
yang terjalin antara guru dan murid serta pelatihan siswa menjadi manusia yang
bertanggung jawab di kehidupan asrama pun ikut berpengaruh dalam pembentukan
karakter dan cara pandangnya. Lambat laun Soegija yang mulai merasakan adanya
perubahan dalam dirinya terutama cara hidup dan doanya, meminta ijin kepada
romo untuk mengikuti pelajaran Katolik di sekolah meski sempat tidak diijinkan
oleh romo. Pada 24 Desember 1910 Soegija memantapkan hati mendapat sakramen
baptisan dengan nama baptis Albertus. Soegija sangat bersyukur karena kedua
orang tuanya bisa menerima pilihannya asalkan dia bisa hidup selaras dengan
keyakinan baru yang dipilihnya meski bertentangan dengan keinginan mereka.
Soegija yang menguasai bahasa Belanda, Inggris, Yunani dan Latin menerima
sakramen Imamat dan ditahbiskan sebagai Imam pada 15 Agustus 1931 di
Maastricht, Belanda dan menambahkan sebuah kata pada namanya menjadi Albertus
Soegijapranata SJ. Pada 6 November 1940, Soegija yang kala itu Pastor di Paroki
Bintaran menerima pentahbisan menjadi Vikaris Apostolik dengan gelar Uskup
Danaba di Gereja Randusari, Semarang berdasarkan mandat dari Kardinal Montini
dari Vatikan. Tidak mudah baginya untuk menerima salib mengemban tugas sebagai
pribumi pertama yang menjadi Uskup Agung di masa perang awal kemerdekaan;
sebagai seorang pemimpin umat sekaligus pejuang kemanusiaan. Kebingungan karena
terpilih sebagai Uskup sempat disampaikannya lewat pertanyaan sederhana yang
membuat koster Toegimin bingung saat mengantarkan soto untuk sarapan pagi sang
Pastor,"pernah melihat seorang Uskup makan soto?" Jabatan dalam
bidang keagamaan bukanlah penghalang bagi Soegija untuk ikut terlibat dalam
perjuangan melawan penjajah. Tahun 1942 Jepang mulai masuk ke Indonesia, mereka
menyita semua yang berbau Belanda. Para imam, suster dan pekerja di kalangan
gereja pun tak luput ditangkap, dijadikan sandera bahkan dibunuh. Ketika Gereja
Randusari hendak disita oleh Jepang untuk dijadikan markas, Soegija dengan
tegas menolak,"ini adalah tempat yang suci. Saya tidak akan memberi ijin.
Penggal dulu kepala saya maka tuan baru boleh memakainya." Saat meletus
perang lima hari melawan Jepang untuk mempertahankan kemerdekaan di Semarang
(15-20 Oktober 1945), Soegija bertahan tidak meninggalkan kota meski cap
penghianat dialamatkan kepada mereka yang tidak mau mengungsi. Soegija menjadi
salah satu mediator pada pertemuan antara pemuda pejuang Indonesia dengan
tentara Sekutu dan Jepang di serambi pastori Gedangan dan yang mendesak
dilakukannya gencatan senjata. Ketika ibukota RI dipindahkan dari Jakarta ke
Yogyakarta pada 4 Januari 1946, Soegija pun ikut memindahkan pusat pelayanannya
dari Semarang ke Yogyakarta sebagai wujud solidaritas. Kepindahan tersebut
memudahkan Soegija untuk berkomunikasi dengan para pemimpin negara termasuk
dengan Presiden Soekarno. Kedekatan dengan petinggi pemerintahan maupun militer
dan keterlibatan Soegija dalam perang kemerdekaan tertuang dalam catatan harian
yang ditulis beliau dan dibukukan oleh G. Budi Subanar, SJ : Kesaksian
Revolusioner Seorang Uskup di Masa Perang. Mgr Soegijapranata berbicara di
depan umat (dok. koleksi pribadi dari buku Kesaksian Revolusioner Seorang Uskup
di Masa Perang) Lewat Soegija, kita bisa melihat bahwa seorang pejuang tidak
semata memanggul senapan. Diplomasi politik lewat pidato untuk mendesak
gencatan senjata maupun tulisan-tulisannya di media luar negeri tentang kondisi
sebenarnya yang terjadi di Indonesia berupa kecurangan dan kebengisan Belanda
terhadap rakyat Indonesia masa itu membuat mata dunia terbuka. Soegija
meninggal 22 Juli 1963 di Nederland, Belanda dan dimakamkan di TMP Giritunggal,
Semarang, Jawa Tengah namun semangat kepahlawanan, nasionalisme, keteladanannya
tetap hidup dan menjadi inspirasi bagi generasi setelahnya. Atas jasanya,
Soegija mendapatkan gelar kehormatan dari pemerintah pada 18 Januari 1950
seperti yang terpatri di atas nisannya sebagai Vikaris Angkatan Perang
Indonesia. Mari kita tengok kembali politik dan pemerintahan yang saat ini
berlangsung di negeri tercinta ini dari hulu hingga ke hilir. Setiap orang
berlomba untuk menjadi terdepan dengan mencari keuntungan diri sendiri tanpa
mau peduli pada keadaan sekitarnya. Betul apa benar? Film Soegija hadir dari
sebuah perjuangan untuk mengenalkan seorang pejuang kemanusiaan, perjuangan
dari mereka yang berada dibalik layar. Segala daya upaya untuk menggalang dana
dari simpatisan Soegijapranata serta donasi umat Katolik Indonesia demi
menutupi biaya pembuatan dan promosi film dilakukan. Film yang menghabiskan dana
sekitar Rp 15 milyar ini, berisi sentilan terhadap para pemimpin serta pesan
perdamaian dan kemanusiaan kepada kita masyarakat Indonesia (dan dunia) tentang
arti sebuah perjuangan. Akhirnya film yang awalnya hanya akan dibuat dalam
bentuk VCD/DVD untuk kalangan sendiri dan penayangannya mundur dari rencana
tayang sebelumnya di Desember 2011, segera hadir di bioskop-bioskop tanah air
pada 7 Juni 2012. Film berdurasi 1,5 jam ini, BUKAN-lah film agama tertentu
melainkan sebuah oase perenungan yang memberi pesan bagaimana sosok seorang
pemimpin yang memiliki karakter kuat dalam mengayomi umat dengan motto 100%
katolik 100% Indonesia. Sosok pimpinan yang didambakan rakyat, ikut ambil
bagian berjuang untuk negaranya, hidup selaras dalam keberagaman budaya, menjunjung
kemanusiaan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di tengah memudarnya tokoh
panutan Indonesia. Para Pemain film Soegija: Nirwan Dewanto sebagai Mgr
Soegijapranata Butet Kertaredjasa sebagai Koster Toegimin Annisa Hertami
Kusumastuti sebagai Mariyem Olga Lydia sebagai Mei Ling Bahan Bacaan dan
Resensi: Soegija si Anak Bethlehem van Java, Biografi Mgr Albertus
Soegijapranata, SJ, 2003 - G. Budi Subanar, SJ Kesaksian Revolusioner Seorang
Uskup di Masa Perang, Catatan Harian Mgr A. Soegijapranata, SJ (13 Februari
1947 - 17 Agustus 1949), 2003 - G. Budi Subanar, SJ Doorstoot Naar Djokja,
Pertikaian Pemimpin Sipil-Militer, 2010 - Julius Pour Teaser trailer Soegija,
2011 - Garin Nugroho, Studio Audio Visual-PUSKAT Yogyakarta (bisa dilihat di
sini) Melihat geliat perfilman Indonesia dengan bermunculannya kembali
film-film berkualitas, kita tentu berharap film Indonesia kembali menduduki
posisi terbaik dan memikat hati penikmat film di negerinya sendiri. Salam kasih
penuh cinta damai
http://www.kompasiana.com/oli3ve/soegija-mengenang-perjuangan-romo-kanjeng-di-tengah-krisis-kepemimpinan-di-indonesia_55100c4f8133118b38bc617a
Artikel ini sangat bagus dan menginspirasi kita kaum muda dan siapa saja untuk mengikuti jejak beliau tidak harus sama persis tetapi dalam kehidupan beragama dan bermasyarakat sangat patut dicontoh.
TINDAK KEBAIKAN KEPADA SEORANG PEMULUNG
Manusia adalah mahluk sosial. Disadari atau tidak manusia tidak bisa hidup sendiri dan maka dari itu ungkapan ini dapat kita artikulasikan bahwa dalam mengarungi dinamika kehidupan sudah merupakan hukum alam manusia tidakdapat berdiri sendiri.

Ini adalah cerita tentang seorang laki-laki yang bekarja sebagai pemulung. Kami bertemu dia ketika kami sedang mengerjakan proyek kebaikan pertama kami, sebenarnya kami ingin berbagi buah-buahan di rumah sakit tapi karena mengurus perizinannya dipersulit kami langsung pergi dari rumah sakit dan mencari kebaikan yang lain dan tanpa sengaja di jalan kami melihat seorang pemulung sedang berjalan kemudian saya dan teman-teman pun langsung berpikiran untuk berbagi kepadanya, kami pun mendatangi pemulung tersebut dan mengajak bapak itu mengobrol, dia bernama wahyu priyanto dia orang yang sangat ramah,pak wahyu menceritakan banyak pengalaman hidupnya kepada kami dari mulai dia pindah ke semarang dan sampai sekarang ini dia bisa jadi pemulung, pak wahyu priyanto berasal dari solo dia pindah kesemarang untuk bekarja di sebuah bank tapi karena adanya sebuah masalah dia pun terpaksa harus di PHK. Pak wahyu tinggal bersama saudaranya yang sudah menpunyai istri tetapi pak wahyu tidak memiliki hubungan baik dengan istri saudaranya, pak wahyu selalu dianggap menyusahkan karena tinggal bersama dia apalagi setelah pak wahyu di PHK dia semakin dihina oleh istri saudaranya setelah sebulan ia di PHK pak wahyu pun memutuskan untuk pindah rumah dan mencari kontrakan dan mulai dari situlah pak wahyu berpikiran untuk jadi pemulung karena sulitnya mencari pekerjaan lain, meskipun dia tidak yakin dengan keputusannya tapi mau bagaimana lagi “ini adalah kehidupan jika saya tidak bangkit maka saya akan mati dalam kehidupan saya sendiri” (kata pak wahyu), dia tidak mudah menyerah dan terus berusaha. Dia bekerja mulai jam 5 pagi sampai jam 6 malam dan dalam sehati dia Cuma mendapatkan hasil 35 sampai 50 ribu rupiah meskipun begitu pak wahyu tetap mensyukurinya. Karena sudah terlalu lama mengobrol dengan pak wahyu dan kami melihat pak wahyu sudah lelah kamipun memutuskan untuk pulang dan sebelum pulang kami memberikan sedikit bingkisan kepada pak wahyu dan dia menerimanya dengan sangat baik, dia sangat mensyukuri apa yang ia dapat.
Banyak nilai yang bisa kita ambil dari seorang pemulung seperti pak wahyu misalnya saja kesabaran, pantang menyerah, dan penuh kesyukuran, kita sebagai orang yang lebih beruntung darinya sudah semestinya jauh lebih mensyukurinya bukan malah mengkufurinya. Maka dari itu senang tiasalah kita dalam bersyukur kepada tuhan kita agar kita selalu di beri kemudahan dalam menjalani hidup. Saling menghormati perbedaan RAS adalah salah satu cara kita untuk mempertahankan persatuan dan kesatuan negara kita.
Kamis, 29 Oktober 2015
MENDAMAIKAN DUNIA DENGAN KASIH
Kasih adalah
penyelesaian satu-satunya. Tapi kebanyakan orang menyembunyikan kasih mereka di
dalam hati mereka karena takut disakiti atau karena pengalaman masa lalu dengan
orang lain atau makhluk lain. Karenanya, mereka menarik kasih mereka. Kalau
tidak, kita semua terlahir dengan kasih.
Kasih
adalah intisari dari keberadaan kita, tetapi kemudian ketika kita berbenturan
dengan makhluk lain di planet fisik ini atau di alam semesta, dan disakiti atau
terluka secara emosi, fisik atau mental, kita tetap mengingat semua pengalaman
buruk ini; kita menyimpan semua pengalaman negatif ini. Dan kita merasa sulit
untuk membuka kasih kita kembali pada dunia karena kita khawatir disakiti atau
dikecewakan dan seterusnya.
Alasan
adanya perang dan kesulitan satu sama lain adalah karena kita selalu hidup di
masa lalu. Kita harusnya hidup seperti binatang; mereka hidup di masa kini.
Mereka selalu berada di masa kini. Misalnya, seekor anjing: Anda marahi dia dan
mungkin Anda pukul pantatnya, dan demikian juga dengan anak-anak. Tapi
kemudian, bila Anda panggil dia kembali dan mengasihinya, dia datang
menggoyangkan ekornya, atau si anak segera datang berlari kepadamu. Mereka
tidak mengingat apa yang Anda lakukan pada mereka meskipun baru semenit
berlalu. Beginilah seharusnya kita hidup bersama dengan yang lainnya.
Tapi
sedihnya, kebanyakan dari kita hidup di masa lalu, hidup di dalam kenangan
kita. Masa lalu tetaplah masa lalu tapi kita selalu membawanya ke masa kini,
kemudian masa kini pada gilirannya mempengaruhi masa depan kita. Karena masa
kini menjadi masa lalu lagi dan lalu kita selalu mengingat segala peristiwa
yang tidak menyenangkan ini, dan kita merasa kesulitan untuk menjadi bahagia di
masa kini.
Sama
halnya dengan latihan kita. Seperti kebanyakan orang yang selalu hidup di masa
lalu, dengan “Yesus” di masa lalu, “Buddha” di masa lalu, atau Santo (Orang
Suci) ini dan Santo itu, lalu mereka lupa untuk membuat diri mereka menjadi
Santo atau menjadi anak Yesus, untuk berada di tingkatNya lagi. Jadi, dunia
seharusnya melupakan masa lalu sama sekali, melupakan derita masa lalu dan
melupakan segala peristiwa yang buruk. Belajar dari situ dan tumbuh dari situ,
bagaikan bunga yang tumbuh dari pupuk yang jelek, kotor, bau, jorok , tetapi ia
dapat tampil elok untuk dinikmati semua orang. Inilah cara kita menghentikan
peperangan, pertempuran, perebutan kekuasaan dan kesulitan.
Tapi
kalian tahu, kita masih berada di dunia ini. Kita bisa bicara begitu dan
mungkin kita bisa bersikap begitu di antara kita sendiri. Karena kita adalah
pelatih kedamaian, kita bisa menikmati kedamaian, dan kita tahu cara untuk
menemukan kedamaian pada saat sedih atau kesulitan. Tapi, kebanyakan orang di
dunia tidak bisa melakukan itu. Karena itu, walaupun kita berlatih dengan baik,
kita masih harus berbagi penderitaan, kesalahpahaman, perang dan kesulitan
dunia secara umum. Kita harus berlatih lebih giat agar punya lebih banyak
pengaruh dan atmosfer yang lebih baik bagi dunia. Dan kemudian, lebih banyak
orang mungkin akan mengikuti kita, dan perang pun akan berkurang. Itulah
penyelesaian satu-satunya.
Dosen Pembimbing : Gregorius Daru W.
Nama: Florentius Padma Surya
Nim: 15.E1.0138
Nama: Florentius Padma Surya
Nim: 15.E1.0138
Langganan:
Postingan (Atom)



